Terbaru

6/recent/ticker-posts

Asal Mula Telaga Madirda

Asal Mula Telaga Madirda

Di daerah Kabupaten Wonogiri, di sebuah puncak bukit yang bernama Bukit Madirda terdapat sebuah talaga. Telaga itu dinamakan sama dengan gunungnya, yaitu telaga Madirda. Telaga Madirda sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk sekitarnya. Mengapa demikian? Inilah kisahnya.
Jaman dahulu, ada seorang resi yang bernama Resi Gutama. Resi itu hidup berbahagia dengan istrinya yang bernama Dewi Windradi dan ketiga anaknya, yaitu Dewi Anjani, Raden Subali, dan Raden Sugriwa. Namun sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dewi Windradi yang lebih mengasihi Dewi Anjani daripada kedua anaknya yang lain, diam-diam memberikan sebuah hadiah istimewa kepada anak gadisnya itu. Hadiah itu bernama Cupu Manik Astagina. Keistimewaan cupu yang konon milik  para dewa itu adalah bisa menyajikan keindahan dari seluruh dunia. Jadi, dengan membuka Cupu Manik Astagina itu, Dewi Anjani bisa melihat segala keindahan dunia tanpa harus mendatangi tempatnya.
Hal itu tentu saja membuat iri Raden Subali dan Raden Sugriwa. Ketiganya kemudian sering bertengkar memperebutkan cupu itu. Ketiganya kemudian tidak hanya bertengkar dengan kata-kata, melainkan juga bertempur dengan hebatnya karena mereka mewarisi kesaktian Resi Gutama. Sementara itu, resi Gutama yang sejak tadi memperhatikan kelakuan putra-putrinya itu menjadi sedih, kecewa, dan marah.
“Berhenti kalian!” teriak Resi Gutama sambil ngibaskan tangannya.
Akibatnya, sungguh luar biasa, ketiganya langsung terpental. Tidak hanya itu, cupu Manik Astagina pun kini sudah berpindah tangan ke dalam genggaman resi.
“Panggil ibumu kemari, Anjani. Bukankah cupu itu pemberian ibumu?” tanya Resi Gutama dengan tatapan tajam.
Anjani mengangguk ketakutan dan segera berlari memanggil ibunya. Dengan penuh kebimbangan, Dewi Windradi menghadap suaminya.
“Windradi, istriku. Kenapa Cupu Manik Astagina milik para dewa ini bisa ada padamu?” tanya Resi Gutama penuh selidik.
Dewi Windradi hanya membisu karena sudah dipesan untuk menjaga rahasia cupu itu oleh Dewa Surya. Melihat istrinya hanya diam, Resi Gutama merasa diremehkan. Resi itu pun jadi murka.
“Hem ...baik! engkau aku tanya membisu, kelakuanmu itu tidak ubahnya tugu batu!”
Keajaiban terjadi, begitu Resi Gutama selesai bicara. Dewi Windradi pun berubah menjadi tugu batu. Semetara Cupu Manik Astagina yang menjadi sumber masalah segera dilemparannya jauh-jauh dan jatuh di Telaga Madirda. Dengan memacu kuda-kuda kesayangan mereka, ketiga anak Resi Gutama segera menuju jatuhnya cupu itu. Reden Subali dan Raden Sugriwa yang mengetahui jatuhnya cupu ke Telaga Madirda langsung terjun ke dalam telaga. Namun, betapa kaget mereka berdua. Begitu keluar dari telaga, keduanya sudah berubah menjadi kera. Dengan perasaan hancur, keduanya segera berloncatan dari pohon ke pohon untuk memohon pertolongan Resi Gutama.
Sementara, Dewi Anjani yang hanya membasuh mukanya dengan air telaga, berubah juga wajahnya menjadi kera. Dengan menangis pilu, Dewi Anjani pun segera pulang untuk memohon pertolongan Resi Gutama pula.
Waktu terus berlalu. Sejak kejadian itu, penduduk di sekitar Telaga Madirda sering mendengar rigkik kuda yang dipercaya berasal dari kuda-kuda sakti milik ketiga anak Resi Gutama itu. Keanehan pun terjadi. Jika ada kuda betina milik penduduk yang mengimbangi ringkik kuda ajaib itu, kuda itu akan hamil dan akan melahirkan kuda yang gagah dan kuat. Belum ada yang tahu seperti apa wujud kuda ajaib yang sering meringkik pada saat-saat tertentu dan menimbulkan bunyi gemerincing indah itu.
Suatu hari, seseorang penduduk yang bernama Ki Sabadrana ingin mencoba melihat kuda ajaib. Ia sudah berkali-kali mencoba, tetapi selalu gagal. Kali ini, ia tak ingin mengulangi kegagalannya lagi. Diam-diam dibawanya seekor kuda betina untuk memancing kuda ajaib keluar, sementara dia akan berpura-pura mencari rumput. Sesampainya di tepi hutan, kuda betinanya dilepaskan begitu saja, sementara Ki Sabadrana mengawasi sambil mencari rumput.
Tidak lama kemudian, terdengar ringkik kuda yang sangat keras di angkasa. Ki Sabradana dibuat takjub karenanya. Kuda yang baru datang itu begitu gagah dan luar biasa elok bentuknya. Warnanya putih gemerlapan dengan dua buah sayap yang kokoh berwarna putih pula. Semetara itu, pelana dan perhiasan yang dikenakannya begitu mewah dan mahal, terbuat dari beludru dan sutera serta intan berlian. Di lehernya terpasang kalung emas dengan sebuah genta emas pula. Jika kuda ajaib  itu bergerak maka akan terdengar bunyi gemerincing yang sangat indah.
Sesaat lamanya, Ki Sabadrana terpana melihat keindahan kuda ajaib itu. Namun, melihat begitu mewah dan mahalnya perhiasan yang dikenakan kuda ajaib itu, timbullah niat jahat di hati Ki Sabadrana. Ia ingin menangkap kuda ajaib itu dan kemudian merampas perhiasannya. Ki Swabradana pun mengendap-endap dengan membawa tali ke arah kuda ajaib yang sedang bermain-main dengan kuda betina miliknya.
“Huup!” Ki Saadrana meloncat ke arah kuda itu.
Namun, dengan gesit kuda ajaib itu menghindar. Ki Sabadrana mengulang lagi, tetapi gagal lagi. Begitu beruang kali sampai tubuhnya lecet semua. Namun, karena nafsu serakahnya, ia pantang menyerah.
“Huup!” Sekali lagi Ki Sabadrana menubruk kuda terbang itu dan kali ini berhasil menangkap kakinya. Kuda itu pun kaget dan dengan meringkik keras dia terbang ke angkasa. Tak peduli ada yang memberati kakinya.
Ki Sabadrana yang ketakutan dibawa terbang semakin mempererat pegangannya pada kaki kuda ajaib itu. Nyalinya runtuh melihat begitu cepat dan tinggi dia dibawa terbang. Sekali jatuh pastiah dia akan mati. Oleh karena itu, Ki Sabadrana hanya bisa memejamkan matanya. Ngeri melihat ke bawah. Beruntung kuda ajaib itu tidak terlalu lama terbang. Sesampainya di sebuah gua yang letaknya tidak jauh dari Telaga Madirda, kuda ajaib itu menyembah seorang putri yang luar biasa cantiknya, yang sedang berdiri di mulut gua. Tanpa disadari, Ki Sabadrana pun menyembah dengan hormat pula.
“Sabadrana ... Bukankah namamu Sabadrana?” tanya putri itu dengan suara yang sangat merdu.
“Benar, Gusti Putri. Hamba Sabadrana,” jawab Ki Sabadrana gugup.
“Aku Putri Mardaeni, penunggu gua di Telaga Madirda ini. Kenapa engkau hendak menangkap kudaku?”
“Hamba... hamba ingin memiliki perhiasan yang dikenakan kuda ajaib itu. Mohon ampun, Putri ...,” jawab Ki Sabadrana dengan muka pucat.
“Ah, engkau menginginkan perhiasan kudaku? Kenapa engkau tidak memintanya baik-baik padaku,” aku akan berikan semuanya itu padamu, termasuk kudaku,” kata Putri Mardaeni.
“Benarkah Gusti Putri?” sahut Ki Sabadrana gembira.
“Benar, Sabadrana. Tetapi ada syaratnya. Syaratnya sederhana, engkau harus menemani aku di sini.”
“Ah, kalau hanya itu, hamba dengan senang hati menerimanya, Gusti Putri,” kata Ki Sabadrana tanpa berpikir panjang lagi.
Sejak itu, Ki Sabadrana tinggal bersama Putri Mardaeni di gua dekat Telaga Madira. Ia begitu bahagia bisa memiliki kuda ajaib beserta perhiasannya yang mewah dan mahal itu. Akan tetapi, Ki Sabadrana tidak menyadari bahwa sejak itu dia sebenarnya sudah tidak hidup di dunia manusia lagi. Dia kini hidup di dunia lain, alamnya para lelembut dan jin seperti halnya Putri Mardaeni yang keturunan bangsa lelembut.
Para sanak saudara yang kemudian mencarinya, sama sekali tidak bisa menemukannya. Mereka hanya bisa mendengar suara Ki Sabadrana yang sedang bercakap-cakap dengan seorang putri, di depan sebuah gua yang kemudian dinamakan Gua Putri; serta bunyi ringkik kuda, tetapi tidak bisa melihat wujudnya.
***

Posting Komentar

0 Komentar