
Banyak masalah
yang dihadapi oleh seorang pengarah acara waktu melaksanakan tugasnya. Masalah
yang dihadapi bukan saja masalah
yang berhubungan dengan teknis produksi, melainkan,
yang lebih penting,
adalah masalah
yang berkaitan dengan kejiwaan. Satu masalah besar .bagi seorang pengarah acara, khususnya pengarah acara
yang baru, baik waktu . memberikan komando komando kepada kerabat kerjanya, maupun waktu mengambil suatu keputusan. Mengambil keputusan dalam menentukan gambar
yang akan direkam atau diudarakan, harus dilakukan dengan cepat, tepat, dan segera disampaikan kepada kerabat kerja
yang bersangkutan, tanpa menunjukkan keragu-raguan. Demikian halnya dalam memberikan komando- komando kep
ada kamerawan, penata suara, penata cahaya, dan sebagainya. Pengarah acara
yang baru selalu menunjukkan keragu-raguannya dalam memberikan komando- komando. Hal ini terjadi karena di dalam benaknya terlintas pikiran bahwa sekali bertindak harus diikuti dengan tindakan lain secara terus- menerus dan tidak dapat dihentikan sehelum waktu
yang ditentukan. Apalagi kalau
yang menjadi tanggungjawabnya itu merupakan siaran langsung. Untuk menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan, seorang pengarah acara harus benar- benar menguasai segala ketentuan
yang berlaku dan mengikuti segala ketentuan, sebelum melangkah ke arah pelaksanaan produksi, sebab tidak
ada petunjuk
yang dapat digunakan sebagai panduan dalam mengatasi masalah
yang dihadapi oleh pengarah acara tersebut, karena memang segala persoalan
yang dihadapi itu benar-benar merupakan persoalan
yang sangat individual. Meskipun demikian, berikut disampaikan beberapa petunjuk, khususnya bagi pengarah acara yang baru:
- Sebelum melangkah lebih jauh, harus mempunyai konsep yang jelas dan terinci;
- Harus mampu memberi penjelasan-penjelasan kepada kerabat kerjanya;
- Mampu menjalin kerjasama yang serasi di anfara kerabat kerjanya, sehingga tercipta one well coordinated unit; dan
- Mentaati prosedur kerja yang telah ditetapkan.
Khusus, tentang hal memberi komando-komando dari ruang kontrol, agar dapat mengurangi rasa gugup, dapat diperhatikan petunjuk-petunjuk sebagai berikut.
- Waktu memberi komando harus menyebutkan “dari siapa” dan “apa” yang dikehendaki, atau “apa” yang akan terjadi serta “kapan”.
- Suara harus jelas dan tegas. Tidak perlu bertele-tele dan tidak perlu keras-keras, sebab komando diberikan melalui alat komunikasi.
- Agar tidak terjadi kesimpangsiuran, perlu ada kesepakatan bahasa kornando waktu latihan sebelumnya.

Hal lain,
yang menjadi beban psikhologis bagi pengarah acara baru
adalah petaksanaan produksi
yang dilaksanakan sepenuhnya oleh switcher. Meskipun pengarah acara telah mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan petunjuk
yang berlaku, tetapi
yang menggerakkan sepenuhnya jalannya produksi
adalah orang lain, yaitu switcher. Bukan pengarah acara. Hal itulah
yang menjadikan. pengarah acara merasa dirinya kecil, karena merasa tidak pernah memberikan komando-komando kepada kerabat kerjanya. Padahal, dia tahu sepenuhnya bahwa dia akan memberikan keputusan akhir, apabila terjadi penyimpangan atas idenya, dan dia pun tahu -bahwa switcher hanya sebagai pelaksana semua
yang diinginkannya melalui suatu skenafio yang telah dibuatnya. Karena itulah sebagai pengarah acara harus benar- benar memahami, bukan saja masalah- masalah teknis produksi, melainkan juga masalah kejiwaan. Hal semacam inilah
yang sering dilupakan oleh pengarah acara senior. Pengarah acara harus tidak segan segan meminta masukan petunjuk kepada siapa saja dari anggota kerabat kerjanya, dan jangan segan-segan menyampaikan kata-kata “silakan” dan “terima kasih atas bantuan Anda”, pada waktu
yang tepat. Dengan kata-kata tersebut akan membantu menjalin hubungan kerja sama dalam melaksanakan tugas
yang menjadi tanggung jawabnya dan ini merupakan langkah awal
yang baik untuk dapat menghasilkan karya produksi seperti
yang diharapkan. Kode-kode
yang sering dipergunakan oleh pemimpin pelaksana produksi seperti gambar berikut.

Beberapa kode floor director untuk artis pendukung (Wuegand, 1985:84)
0 Komentar