ASAL MULA HURUF JAWA
Cerita asal mula huruf Jawa bermula dari kedatangan seorang brahmana muda dari tanah Hindustan yang bernama Aji Saka. Kedatangan brahmana itu ke tanah Jawa disamping ingin menyebarkan kepercayaan, juga karena tertarik dengan kabar yang menceritakan adanya seorang raja di tanah Jawa yang suka makan manusia.
Sang Brahmana muda datang ke tanah Jawa dengan ditemani beberapa abdi setianya. Mereka pun bertanya kesana-kemari untuk menuju ke kerajaan Medang. Namun sesampainya di Pegunungan Kendeng, Ajisaka meminta salah seorang pengikutnya yang bernama Sembada untuk tetap tinggal di Pegunungan Kendeng.
“Sembada. Aku belum tahu seberapa hebatnya Raja Dewatacengkar. Maka sebaiknya ada seseorang yang tetap hidup,” berkata Ajisaka.
“Maksud, Gusti Aji ?”
“Sebaiknya kau tetap tinggal disini, dan sebagai pelindungmu, aku tinggalkan pusakaku bersamamu. Namun ingat pesanku, hanya aku sendiri yang akan mengambil pusakaku,” lanjut Sang Ajisaka lagi.
Brahmana muda dari Hindustan itupun kemudian melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke kerajaan Medang. Di sepanjang jalan yang dilalui, diam-diam Ajisaka senantiasa mengumpulkan keterangan tentang Raja Dewatacengkar. Tekadnya semakin bulat ketika mengetahui penderitaan rakyat Medang yang setiap saat dilanda ketakutan.
“Ini tak boleh dibiarkan terus. Harus segera dihentikan! “berkata Ajisaka kepada para pengikutnya.
Brahmana muda dari Hindustan itu kemudian memerintahkan Dora untuk mengambil pusakanya yang dititipkan pada Sembada di Pegunungan kendong. Pusaka itu akan dipergunakan jika rencana pertama menemui Dewatacengkar mengalami kegagalan.
Di hadapan Raja Dewatacengkar, Ajisaka menyatakan kesediaannya untuk menjadi mangsa Raja medang itu. Namun begitu dia meminta satu syarat yaitu tanah selebar ikat kepalanya untuk mengubur tulang belulangnya.
“Baik. Cepat lepaskan ikat kepalamu! Sudah tidak sabar aku merasakan kelezatan daging orang asing “berkata Raja Dewatacengkar.
Ajisaka kemudian menyerahkan ikat kepalanya kepada Dewatacengkar. Namun ajaib, setelah ditarik, ikat kepala itu menjadi sangat panjang sekali. Bahkan setelah ditarik sampai ke pesisir laut selatan, ikat kepala Ajisaka belum tuntas panjangnya.
Raja Dewatacengkar pun menjadi heran dan bercampur geram. Namun disaat Raja Medang itu termangu-mangu, Ajisaka dengan kesaktiannya segera menghentakkan ikat kepalanya. Akibatnya sungguh luar biasa, tubuh Raja Medang itu terpental jauh dan tercebur di tengah laut selatan. Konon tubuh Raja Medang itu berubah menjadi buaya raksasa yang berwarna putih.
Rakyat kerajaan Medang bersuka ria dengan hilangnya raja mereka, dan rakyat Medang pun sepakat untuk menjadikan Ajisaka sebagai rajanya.
Beberapa hari kemudian, Ajisaka teringat kepada Dora yang diperintahkan mengambil pusaka yang dijaga Sembada. Teringat akan watak dan ketaatan kedua orang pengikutnya itu, Ajisaka menjadi sangat cemas. Brahmana yang kini telah menjadi raja itu segera berniat menyusul pengikutnya itu.
Sementara itu di Pegunungan Kendeng, apa yang dicemaskan oleh Ajisaka terjadi. Dora dan Sembada saling bersitegang memperebutkan pusaka Ajisaka.
“Ayolah, kakang Sembada. Aku benar-benar diperintahkan Gusti Ajisaka untuk mengambil pusaka itu untuk membunuh Dewatacengkar! “ucap Dora sudah mulai habis kesabarannya.
“Adi Dora, Engkau pun tahu pesan Gusti Aji kepadaku. Selain Gusti Aji, tak seorangpun boleh mengambil pusakanya “jawab Sembada tetap pada pendiriannya.
Kedua pengikut Ajisaka itu pun akhirnya sama-sama tidak bisa mengendalikan dirinya masing-masing. Dari pertengkaran mulut, akhirnya menjadi perkelahian yang sengit. Keduanya sama-sama sakti karena mewarisi kesaktian Ajisaka.
Sampai berhari-hari perkelahian itu belum juga nampak siapa yang kalah dan siapa yang menang. Akhirnya keduanya saling menghunus senjatanya masing-masing dan akibatnya keduanya pun jatuh bersimbah darah, menghembuskan nafas terakhir hampir bersamaan pula.
Ajisaka yang kemudian sampai di tempat itu, menjadi sangat terpukul hatinya karena dilanda kesedihan dan penyesalan. Kedua pengikutnya yang setia itu membujur kaku karena sama-sama memegang teguh perintah yang telah diberikannya.
Untuk mengenang keteguhan hati dan kesetiaan kedua orang pengikutnya itu, Ajisaka kemudian menciptakan huruf-huruf yang dikemudian hari dikenal sebagai huruf Jawa. Susunan huruf Jawa terebut adalah; ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga.
Hana caraka = ada utusan
Data sawala = pada bertengkar
Padha jayanya = sama saktinya
Maga bathanga = mati bersama
***
0 Komentar