JAKA TARUB DAN BIDADARI
Dikisahkan, Ki Ageng dan Nyi Ageng Tarub sudah lama mendambakan seorang anak. Namun sampai usia mereka renta, keinginannya itu belum juga terkabul, bahkan sampai Ki Ageng Tarub meninggal. Namun Ki Ageng sebelum meninggal tetap berpesan kepada istrinya untuk tidak berhenti memohon kepada dewata. Hingga pada suatu malam yang hening, saat Nyi Ageng Tarub hendak berdoa di samping kuburan Ki Ageng Tarub, dia dikejutkan oleh tangis seorang bayi.
“Astaga! bayi siapakah ini?”teriak Nyi Ageng Tarub heran bercampur girang melihat bayi merah di samping makam suaminya.
Dengan penuh rasa syukur, bayi itu pun dibawa Nyi Ageng Tarub ke rumahnya. Dan dihadapannya warga Tarub, bayi yang dianggap Nyi Ageng Tarub sebagai anugerah para dewa itu diberi nama Jaka Tarub.Hari berganti hari, Jaka Tarub pun telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tegap dan tampan. Kegemarannya adalah berburu, baik dengan senjata panah maupun sumpitan.
Hari itu, seperti biasanya, pagi-pagi sekali Jaka Tarub sudah berangkat berburu ke hutan tempat biasanya dia berburu. Namun sampai lewat tengah hari, Jaka Tarub tak berhasil mendapatkan satupun binatang buruan.Jaka Tarub-pun tak berputus asa, dia semakin jauh lagi memasuki kawasan hutan. Namun aneh, semakin dalam memasuki kawasan hutanpun, Jaka Tarub tetap tak berhasil menjumpai binatang buruan.
Tiba-tiba sayup-sayup Jaka Tarub mendengar suara beberapa orang gadis yang sedang bersenda gurau. Antara percaya dan tidak, ia pun terus mencari arah datangnya suara itu. Jaka Tarub pun tertegun melihatnya. Di sebuah telaga yang sangat jernih airnya dan terdapat pula sebuah air terjun, dilihatnya tujuh orang gadis sedang bersenda gurau.
“Dari mana datangnya gadis-gadis yang cantik ini. Mereka para peri hutan atau para bidadari ?” bertanya Jaka Tarub di dalam hatinya.
Pandangan mata Jaka Tarub kemudian beralih kepada onggokan pakaian yang terletak di atas batu di pinggir telaga. Dengan mengendap-endap Jaka Tarub mengambil satu dan segera disembunyikannya.
Beberapa saat kemudian ketika matahari condong ke barat, gadis-gadis yang mandi di telaga itupun berniat hendak pulang. Kegemparan segera terjadi ketika mengetahui pakaian mereka hilang satu.
“Adik Nawangwulan, kami tak bisa menunggu adik menemukan pakaian. Hari sudah menjelang gelap. Kami harus segera kembali ke kahyangan!” seru gadis-gadis itu dan terus terbang ke angkasa.
Dalam sekejap mereka sudah tidak nampak lagi dalam penglihatan. Tinggallah Nawangwulan yang masih tertinggal di telaga dan terus menangis dengan sedihnya. Jaka Tarub pun muncul menawarkan bantuannya, dan Nawangwulan tidak mempunyai pilihan lain selain menerimanya meskipun dengan syarat harus menjadi istri Jaka Tarub.
Kedatangan Jaka Tarub yang pulang tidak membawa hasil buruan, tetapi menggandeng seorang gadis yang luar biasa cantiknya, disambut dengan suka cita oleh Nyi Ageng Tarub. Keduanya segera disyahkan sebagai suami-istri dihadapan warga Desa Tarub.
Jaka Tarub dan bidadari Nawangwulan hidup berbahagia. Setahun berikutnya mereka pun telah dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Nawangsih. Namun kebahagiaan mereka yang diawali dari kebohongan, akhirnya tidak berlangsung lama. Pada suatu hari terjadilah peristiwa yang menjadi awal perpecahan rumah tangga mereka.
Pagi itu, Nawangwulan tergesa pergi ke sungai untuk mencuci pakaian anak mereka, Nawangsih yang sudah kotor semua. Karena nasinya belum masak, maka dia berpesan kepada Jaka Tarub untuk menjaga apinya agar jangan sampai padam. Namun dengan sangat Nawangwulan berpesan agar Jaka Tarub tidak membuka tutup periuknya.
Jaka Tarub pun pergi ke dapur untuk melaksanakan pesan istrinya. Namun di saat menjaga api, pikiran Jaka Tarub tergoda untuk membuka tutup periuknya. Dan begitu dibuka, Jaka Tarub pun menjadi sangat terkejut, karena di dalam periuk itu hanya berisi satu tangkai padi saja. Kini Jaka Tarub pun menjadi mengerti kenapa padi di lumbung seperti tidak pernah habis karena istrinya menanak nasi hanya dengan satu tangkai padi sudah cukup untuk satu keluarga.
Namun akibat dari rasa ingin tahunya itu telah membuat Nawangwulan menjadi sangat marah. Bidadari itu pantas marah karena dengan dilanggarnya pesan itu, maka kesaktiannya menjadi musnah..
Kini setiap kali hendak menanak nasi, Nawangwulan harus menumbuk padi terlebih dahulu, dan akibat diambil setiap hari untuk ditumbuh, maka padi di lumbung pun cepat habis. Nawangwulan pun menjadi sangat terkejut ketika ditumpukan padi yang paling bawah, dia menemukan pakaian bidadarinya.
“Oh, jadi selama ini Kakang Jaka sendiri yang telah mengambil dan menyembunyikan pakaianku,” berkata Nawangwulan di dalam hatinya.
Hati Nawangwulan menjadi pedih, karena selama ini telah dibohongi Jaka Tarub, namun lebih pedih lagi karena harus berpisah dengan Nawangsih, putrinya. Setelah mengenakan pakaian bidadarinya, Nawangwulan yang telah berujud bidadari segera menemui Jaka Tarub.
“Kakang Jaka, aku hendak kembali ke kahyangan. Aku tak mungkin bisa hidup dengan manusia yang telah membohongiku sekian lama …”
“Dewi, tunggu. Aku memang bersalah, tetapi tolong anak kita …” ratap Jaka Tarub dengan sedih.
Namun penyesalan dan ratap Jaka Tarub tak mampu lagi menghalangi Dewi Nawangwulan untuk kembali ke kahyangan sebagai bidadari. Hanya pada malam-malam tertentu Dewi Nawangwulan akan kembali turun ke bumi untuk menemui Nawangsih putrinya, itupun Jaka Tarub harus membuatkan dangau yang terpisah dari rumah Jaka Tarub. Memang tidak ada kebahagiaan yang abadi, apalagi kebahagiaan itu diraih melalui sebuah kebohongan.
***
0 Komentar