Legenda Sunan Gesang
Legenda Sunan Gesang terjadi pada zaman Demak. Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa itu berkembang pesat berkat dukungan para wali. Diceritakan pada waktu itu, Sunan Kalijaga sedang mengadakan pengembaraan menjelajahi seluruh pelosok Demak untuk menyebarkan agama Islam. Namun, tugas itu bukan sesuatu yang mudah karena masyarakat sebelumnya sudah mempunyai kepercayaan sendiri. Akan tetapi, Sunan Kalijaga tidak berputus asa. Kanjeng Sunan terus-menerus melakukan tugas suci itu.
Suatu hari, Sunan Kalijaga sampai di sebuah hutan yang terkenal angker dan tidak sembarang orang berani memasukinya. Hutan itu tidak saja dihuni oleh bangsa jin, tetapi juga kawanan perampok yang sangat kejam yang dipimpin oleh Cokrojoyo. Begitu Sunan Kalijaga memasuki kawasan hutan itu, keajaiban pun terjadi. Bangsa jin itu lari terbirit-birit tidak tahan hawa panas yang memancar dari tubuh Sunan Kalijaga.
Sementara itu, kawanan perampok anak buah Cokrojoyo langsung berloncatan dari dahan-dahan pohon, untuk mengepung Sunan Kalijaga.
“Ha ... ha ... ha ... teman-teman, lihat! Ada mangsa datang sendiri kemari,” teriak salah seorang yang berwajah brewok.
“Ayo teman-teman langsung kita habisi saja!” sahut yang lain.
Tanpa sungkan-sungkan lagi, kawanan perampok itu langsung berniat menghabisi Sunan Kalijaga. Namun mereka kena batunya. Sunan Kalijaga benar-benar marah melihat kekejaman kawanan perampok itu dan berniat memberi pelajaran. Sunan Kalijaga segera mengibaskan lengan kirinya dan keajaiban pun terjadi. Kawanan perampok itu segera saja terpental jauh bagai dihempas angin topan. Tubuh mereka segera berjatuhan setelah membentur pohon. Dengan menahan sakit yang amat sangat, kawanan perampok itu segera lari menyelamatkan diri ke dalam hutan dan berusaha melaporkannya kepada Cokrojoyo.
Cokrojoyo yang bertampang sangar dan badannya seperti raksasa menjadi sangat marah mendapat laporan anak buahnya. Dengan geram dihantamnya sebuah pohon besar dihadaannya yang langsung saja berderak-derak roboh. Tanpa membuang waktu, Cokrojoyo segera melesat mengejar ke arah perginya Sunan Kalijaga. Beberapa saat kemudian, Cokrojoyo sudah berhasil mengejar Sunan Kalijaga.
“Tunggu! Jangan hanya berani sama kroco-kroco saja. Ini Cokrojoyo menantangmu!” teriak Cokrojoyo sambil terus menyerang Sunan Kalijaga .
Sunan Kalijaga hanya berdiam diri mendapatkan tendangan dan pukuan yang mematikan itu. Namun, sampai kehabisan tenaga Cokrojyo menyerang degan membabi buta itu, tubuh Sunan Kalijaga tidak bergerak sama sekali. Tubuh itu tetap berdiri mematung.
“Kenapa pohon itu kauu siksa sedemikian rupa, Cokrojoyo?” terdengar sebuah suara menegur.
“Gia?! Pohon?!” teriak Cokrojoyo kaget. “Ilmu sihir! Kau telah menggunakan ilmu sihir,” teriak Cokrojoyo geram.
Cokrojoyo kemudian mencabut keris pusakanya yang sangat ampuh dan telah banyak menelan korban. Dengan pusaka itulah Cokrojoyo kembali menyerang Sunan Kalijaga yang duduk bersemedi di atas batu di pinggir kali. Serangan itu dengan telak menghujam tubuh Sunan Kalijaga. Cokrojoyo pun girang bukan kepalang. Dengan bengis, tubuh yang sudah tidak berdaya itu dicincangnya.
“Ha ... ha ... ha ... mampus kau penyihir, baru tahu kau berhadapan dengan siapa. Inilah Cokrojoyo, berandal yang paling ditakuti di Demak,” kata Cokrojoyo sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun, kegembiraan Cokrojoyo tidak berangsung lama karena suara itu terdengar lagi. “Kasihan nasib batu itu, kenapa kau hancurkan begitu?” tegur suara itu sambil terus beralu menyeberangi sungai.
Cokrojoyo terhenyak ketika melihat yang dihancurkan ternyata sebongkah batu. Kini dia sadar tengah berhadapan dengan seorang yang sakti, apalagi dia juga melihat orang itu mampu berjalan di atas air. Cokrojoyo pun segera mohon ampun dan berjanji bertobat. Bahkan memohon kepada Sunan Kalijaga untuk diterima sebagai murid.
Akan tetapi Sunan Kalijaga tidak gampang menerima murid. Cokrojoyo pun diuji terlebih dahulu. “Aku bersedia menerimu sebagai murid, namun ada satu syaratnya. Tunggulah aku disini karena tugasku masih banyak,” kata Sunan Kalijaga sambil terus berlalu.
“Aku beri kau teman, kucing hutan itu,” lanjut Sunan Kalijaga sambil menunjuk seekor kucing hutan dan kucing itu pun langsung menurut.
Cokrojoyo berjanji akan terus menunggu kembalinya Sunan Kalijaga di tempat itu. Hari berganti hari, bulan telah berganti pula tahun,.namun, Sunan Kalijaga belum selesai dalam menjalankan tugasnya. Baru setelah menginjak tahun kedua, selesailah tugasnya. Namun Sunan Kalijaga langsung kembali ke Demak. Dan di Demak segera pula disibukkan dengan segala urusan kerajaan sehingga janjinya kepada Cokrojoyo terlupakan. Baru ketika menginjak tahun ketiga akhir, Sunan Kalijaga teringat kembai akan janjinya itu. Bukan main cemas dan menyesalnya Sunan Kalijaga atas kejadian itu. Sunan Kalijaga pun segera bergegas untuk mengetahui nasib calon muridnya itu.
Sesampainya Sunan Kalijaga di tempat pertama kali bertemu dengan Cokrojoyo, segalanya telah berubah. Rerumputan di pinggir kali kini telah tumbuh setinggi manusia. Sunan Kalijaga pun kesulitan mencari tempat Cokrojoyo. Sunan Kalijaga mulai sangsi. Mungkinkah setelah ditinggal selama tiga tahun perampok bengis itu masih menunggunya? Sunan Kalijaga termangu-mangu memandangi hutan ilalang di depannya. Tiba-tiba saja Sunan yang terkenal sakti itu mengibaskan kembali lengannya. Keajaiban pun terjadi. Hutan ilalang itu terbakar karena adanya tiupan angin. Dalam sekejap, hutan ilalang itu pun habis terbakar.
Sunan Kalijaga menjadi kaget ketika diihatnya di tengah-tengah hutan ilalang yang terbakar itu ada seseorang yang sedang duduk bersila di atas batu besar. Sekujur tubuh orang itu tampak menghitan (geseng) karena terbakar.
“Cokrojoyo, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Sunan Kalijaga sambil mengguncang tubuh Cokrojoyo dengan penuh kecemasan.
“Akhirnya guru datang juga. Legalah hatiku kini,” jawab Cokrojoyo dengan gembira dan segera menyembah Sunan Kalijaga.
Dengan sangat terharu, Sunan Kalijaga segera mengangkat Cokrojoyo sebagai muridnya. Cokrojoyo pun diberi gelar Sunan Geseng karena sekujur tubuhnya berwarna hitam terena jilatan api (bahasa Jawa : geseng).
Sementara itu, kucing hutan yang dahulu diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menemani Cokrojoyo ditemukan sudah mati, namun tubuhnya masih utuh. Sebagai penghormatan atas kesetiaan kucing hutan itu, Sunan Kalijaga mendirikan sebuah batu peringatan di atas kuburannya, dan diberi nama Watu Kuwuk (kuwuk artinya ‘kucing hutan’). Baik kuburan Watu Kuwuk maupun kuburan Sunan Geseng, sampai sekarang masih ada di wilayah Kebumen dan dikeramatkan oleh masyarakat sekitarnya.
***
1 Komentar
petilasan watu kuwuk ada didesa korowelang kecamatan kutowinangun kebumen di pinggir kln raya yg tembus ke kabuaran daridesa gumenter.
BalasHapus