1. SANGKURIANG SAKTI (LEGENDA TANGKUBA PRAHU)
Cerita Sangkuriang sakti atau asal mula terjadinya Gunung Tangkuban Perahu terjadi pada saat tanah Parahyangan diperintah oleh Prabu Sungging Prabangkara.
Dikisahkan, pada suatu hari Prabu Prabangkara pergi berburu untuk menghibur hatinya. Raja Parahyangan itu berangkat dengan menuggang kuda dan diiring dengan beberapa prajurit pilihannya. Baginda sangat gembira bila sedang berburu sehingga sering sampai lupa waktu. Para prajuritnya yang sudah mengenal kebiasaannya dan juga kesaktian raja mereka, hanya mengamati dari kejauhan. Para prajurit itu tidak begitu cemas melihat Baginda terus berburu jauh memasuki hutan.
Baginda menghentikan perburuannya ketika matahari condong kebarat. Hatinya sangat gembira mendapatkan buruan yang banyak. Baginda segera memacu kudanya untuk kembali ke perkemahan.Namun di tengah perjalanan, Baginda merasa ingin buang air kecil.Dia segera melompat dari kudanya dan berhajat kecil diantara semak-semak. Tanpa disadarinya air seninya itu tertampung dipecahan tempurung kelapa.
Selang beberapa lama, lewatlah seekor babi berbulu putih. Babi putih itu bukanlah babi biasa, tetapi penjelmaan seorang bidadari yang kena kutukan dewa. Babi itu tampaknya sangat kehausan, sehingga ketika melihat ada air di dalam tempurung kelapa, segera saja diminumnya. Keajaiban terjadi, beberapa waktu kemudian babi putih itu unting. Dan ketika tiba saatnya melahirkan, babi putih itu ternyata melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
Tangisan bayi itu sangat keras sehingga mengagetkan semua penghuni hutan, tak terkecuali Prabu Prabangkara yang saat itu juga sedang berburu. Baginda segera menggebrak kudanya ke arah sumber suara. Baginda pun sangat terkejut melihat ada bayi yang tergeletak di atas semak -semak.
“Jagat Dewa Batara, siapakah yang begitu tega meninggalkan bayi di tengah hutan?!” seru Prabu Prabangkara dan segera mengambil bayi itu dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
Baginda segera memerintahkan para pengawalnya untuk kembali ke istana dan tidak meneruskan perburuan. Hati Baginda sudah terhibur mendapatkan bayi yang dipercayai sebagai pemberian para dewa itu. Sesampai di istana, bayi itu diasuh oleh para dayang istana. Baginda memberi nama bayi yang cantik itu Dayang Sumbi. Makin hari, Dayang Sumbi pun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
Pada suatu hari, Dayang Sumbi menghadap Raja Prabangkara. Dia memohon kepada Baginda agar diijinkan menjadi seorang pertapa karena Sang Putri tidak tertarik untuk menjadi raja menggantikan ayahnya. Dayang Sumbi lebih senang tinggal di kesunyian hutan untuk bisa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baginda sangat sedih hatinya mendengar permintaan Dayang Sumbi yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri itu.
“Mungkin sudah takdirmu, Anakku. Engkau berasal dari hutan dan harus kembali pula ke hutan,” berkata Baginda di dalam hatinya.
Dayang Sumbi tinggal di sebuah rumah bambu di tengah hutan dan hanya ditemani anjing kesayangannya, Si Tumang. Anjing hitam itu sebetulnya juga bukan anjing biasa, tetapi penjelmaan dewa. Pekerjaan Sang Putri setiap hari selepas bersemedi adalah menenun kain. Pada suatu hari ketika Dayang Sumbi sedang menenun kain, tiba-tiba alat menenunnya jatuh di bawah kolong rumah.
Dayang Sumbi yang sedang tidak enak badan malas mengambilnya. Tanpa disadarinya terloncatlah kata-katanya, “Jika ada orang yang mengambilkan alat tenunku, bila perempuan maka aku angkat sebagai saudara, dan jika laki-laki, akan aku jadikan sebagai suami.”
Begitu Dayang Sumbi selesai mengucapkan kata-katanya, Si Tumang, datang dengan membawa alat tenun di mulutnya.
“Tumang! Bukan engkau yang aku maksudkan!” pekik Dayang Sumbi sangat terkejut.
Dayang Sumbi sangat menyesal telah mengeluarkan kata-katanya. Namun nasi telah menjadi bubur, ia tak mungkin bisa menarik kata-katanya kembali. Putri cantik itu harus menepati janjinya. Namun keajaiban pun terjadi, bila malam tiba, Dayang Sumbi senantiasa bermimpi Si Tumang berubah menjadi seorang dewa yang gagah dan tampan. Ia pun bahagia berkasih-kasihan dengan dewa penjelmaan Si Tumang. Akibatnya Dayang Sumbi pun mengandung, dan kemudian melahirkan bayi lak-laki yang kemudian dinamakan Sangkuriang.
Sangkuring pun tumbuh menjadi seorang bocah yang tangkas dan pemberani. Meskipun usianya baru sepuluh tahun, tetapi Sangkuriang sudah pandai berburu. Suatu hari Dayang Sumbi begitu ingin makan hati rusa, dan Sangkuriang pun menyatakan kesanggupannya untuk mendapatkan hati rusa dengan ditemani oleh Si Tumang.
Namun hari itu tampaknya bukan hari yang baik bagi Sangkuriang. Tak ada satu rusapun yang menampakkan diri, bahkan binatang-binatang lainpun tak nampak juga. Sangkuriang hampir putus asa dan berniat pulang, tetapi mendadak saja melintaslah seekor babi putih.
“Tumang …!Ayo kita kejar !” teriak Sangkuriang kepada Si Tumang.
Dengan gesit anjing hitam itu segera memburu babi putih itu. Namun begitu berhadapan dengan babi putih itu, Si Tumang tidak berbuat apa-apa. Si Tumang tahu kalau babi putih itu adalah jelmaan bidadari dan juga ibu dari istrinya, Dayang Sumbi.
“Ayo, Tumang ! Bunuh babi itu !” perintah Sangkuriang.
Namun Si Tumang tetap berdiam diri dan bahkan membiarkan babi putih itu pergi. Sangkuriang pun menjadi marah dan melepaskan anak panahnya pada Si Tumang. Anjing hitam itu pun mati seketika. Sangkuriang yang tidak mendapatkan hati rusa kemudian mengambil hati si Tumang untuk oleh-oleh ibunya. Dayang Sumbi pun dengan perasaan gembira menerima oleh-oleh putranya itu dan kemudian memasaknya.
Selesai makan, Dayang Sumbi seperti biasanya segera menyiapkan makan untuk Si Tumang. Namun Dayang Sumbi tak berhasil menemukan Si Tumang. Diapun segera bertanya kepada Sangkuriang, dan anaknya itu menceritakan nasib si Tumang tanpa ada perasaan bersalah. Dayang Sumbi pun menjadi sangat marah.
“Anak Durhaka !” teriak Dayang Sumbi sambil memukul kepala Sangkuriang dengan centong nasi sekuat tenaga.
Sangkuriang menjerit kesakitan dan segera berlari meninggalkan rumah. Dia sangat sedih menerima kemarahan Ibunya yang selama ini tidak pernah memarahinya. Dia berfikir kalau ibunya sudah tidak mencintainya lagi, maka dia bertekad tak akan kembali ke rumah lagi.
Dalam pengembaraannya, Sangkuriang kemudian bertemu dengan seorang pertapa sakti. Diapun diangkat sebagai murid dan bahkan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Maka tidak mengherankan setelah beberapa tahun kemudian, Sangkuriang telah menjelma sebagai seorang pemuda yang perkasa dan sakti tanpa tanding.
Setelah gurunya meninggal, Sangkuriang segera meneruskan pengembaraaanya lagi. Dalam pengembaraannya itu, Sangkuriang banyak menaklukkan raja-raja jin yang berdiam Parahyangan untuk dijadikan pengikutnya.
Pada suatu hari, ketika Sangkuriang tiba di sebuah sungai yang berair jernih, dia sangat terkejut melihat ada seorang gadis yang cantik sedang mencuci pakaian di tepi sangai itu. Dia pun jatuh hati kepada Si Gadis itu, demikian pula dengan gadis itu. Keduanya segera menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.
Suatu hari ketika keduanya sedang bercengkrama, dan Si Gadis sedang mencari kutu di kepala Sangkuriang, tiba-tiba Si Gadis menjadi sangat terkejut melihat ada bekas luka di kepala kekasihnya. Si Gadis pun menanyakan sebab-sebab terjadinya luka itu, dan Sangkuriang pun menceritakan masa kecilnya ketika terjadinya luka itu. Si Gadis menjadi sangat terkejut mendengar cerita itu.
“Ah, kalau begitu kau adalah Sangkuriang anakku !” Pekik gadis itu yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Sebagai keturunan bidadari ia memang tidak pernah tua, wajahnya tetap awet muda.
“Tidak mungkin! Ibuku pasti sudah tua. Kamu jangan mencari-cari alasan untuk menolak aku!” Sergah Sangkuriang pula. “Pokoknya kamu harus menjadi istriku !” tegas Sangkuriang lagi.
“Oh. Dewa … kenapa ini bisa terjadi? Kutukan apakah yang harus hamba terima jika anakku terus memaksaku?” keluh Dayang Sumbi.
Akhirnya setelah tak mampu menghentikan niat Sangkuriang, Dayang Sumbi pun bersedia menjadi istri Sangkuriang namun dengan syarat Sangkuriang harus mampu membuatkan sebuah telaga di puncak gunung berikut sebuah perahu besar untuk bulan madu mereka. Dan semua itu harus selesai dalam tempo semalam, sebelum ayam berkokok.
Dayang Sumbi yakin, Sangkuriang tak akan sanggup melaksanakan syaratnya. Namun di luar dugaan, Sangkuriang dengan senang hati menyanggupinya. Dia segera memerintahkan raja-raja jin yang pernah ditaklukkannya untuk membuat telaga di puncak gunung, sementara dia yang akan membuat perahu besarnya.
Menjelang tengah malam pekerjaan Sangkuriang dan bala tentara jin hampir selesai. Dayang Sumbi menjadi sangat resah hatinya, diapun memohon pertolongan para dewa agar menghentikan niat anaknya. Para Dewa mengabulkan doanya, seketika itu juga meskipun masih tengah malam, matahari sudah mulai bersinar dari ufuk timur dan ayam-ayam pun berkokok saling bersahutan.
Para jin pun segera menghilang tak berani lagi melanjutkan pekerjaannya. Mengetahui hal itu, Sangkuriang menjadi sangat murka. Dengan kesaktiannya, perahu besar, yang sudah hampir selesai itu ditendangnya kuat-kuat ke angkasa. Keajaiban pun terjadi, ketika perahu besar itu jatuh telungkup di atas bumi, tiba-tiba berubah menjadi sebuah gunung. Gunung itu kemudian dinamakan Gunung Tangkuban Perahu.
***
0 Komentar